Indy si Tukang Menyontek
Matahari semakin meninggi. Terik matahari semakin panas.
Di ruangan kelas 10 Mia 2 nampak segerombolan siswa yang sedang asyik mengobrol membicarakan banyak hal, hingga berujung pada suhu panas yang semakin meningkat sekarang ini.
"Ahh, haus sekali. Ayo kita pergi membeli minuman dingin di kantin!" Ajak Indy pada Heni yang sibuk mengipasi wajahnya dengan sebuah buku.
"Tidak mau. Lebih nyaman di ruangan ini, di luar panas sekali." Jawab Heni santai.
"Usahamu mengipasi diri itu sia-sia, tidak ada gunanya." Sahut Gita yang sejak tadi sibuk mengerjakan tugas Biologinya.
"Kok tidak ada guna sih?" Tanya Heni menghentikan aktivitasnya.
"Iya manis. Karena semakin kamu bergerak mengipasi diri, kamu akan semakin banyak gerak, hal itu menyebabkan tubuhmu semakin berkeringat." Ucap Gita menjelaskan.
"Jadi aku harus bagaimana?" Ucap Heni memasang wajah bingung.
"Tidak perlu kamu mengipasi dirimu. Diamkan saja nanti keringatnya akan berhenti saat kamu tidak melakukan banyak gerak." Sambung Jely tanpa mengalihkan pandangannya dari gadgetnya.
"Oyah? Pantasan sejak tadi keringat ini tidak berhenti mengalir.
"Ya sudahlah aku pergi ke kantin, rasa haus ini tak mampu lagi kutahan." Indy berkata sambil berlari keluar kelas. Rasa hausnya semakin menjadi-jadi. Dengan berlari secepat kilat Ia berlari menuju kantin untuk membeli minuman dingin agar dapat menghilangkan dahaganya.
Sedangkan di kelas Jely, Heni dan Gita tetap melanjutkan obrolan mereka.
"Mengapa akhir-akhir ini suhu udara semakin panas?" Ucap Heni bertanya.
"Wajarlah karena dewasa ini lapisan ozon semakin menipis, hal ini disebabkan oleh penggunaan refrigeran yang berlebihan yakni zat pendingin pada sistem pendinginan. Lapisan ozon sendiri memiliki peran yang sangat penting, tetapi terkadang dilupakan. Padahal ozon adalah lapisan yang melindungi kita dari radiasi ultraviolet yang dipancarkan oleh matahari." Jelas Gita panjang lebar.
"Jadi apa yang harus kita lakukan untuk mengurangi penipisan ozon?" Tanya Erlin ikut bergabung karena tertarik dengan percakapan mengenai lapisan ozon ini.
"Hal yang dapat kita lakukan adalah mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, karena emisi yang dihasilkan oleh kendaraan akan mengakibatkan lapisan ozon bolong. Kita juga bisa melakukan penghijauan, menggunakan bahan yang bersahabat dengan lingkungan dan mengurangi penggunaan listrik." Jawab Gita antusias dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Erlin.
"Gita, dari mana kamu mengetahui hal-hal ini?" Tanya Jely kagum.
"Memangnya selama ini kamu tidak tahu? Gita sangat menyukai mata pelajaran Kimia sehingga diam-diam Ia sering ke perpustakaan dan membaca buku." Sambung Nia mulai bersuara.
"Hebat!" Seru Jely dan Heni bersamaan.
Disela-sela percakapan mereka, Indy muncul dengan wajah pucat pasi, Ia menghampiri teman-temannya.
"Teman-teman! Hari ini akan di adakan ulangan Kimia. Bu Kris memberikan waktu Lima menit untuk kita mempelajari materi yang telah diberikannya." Kata Indy memberi informasi.
Tanpa berbasa-basi, Heni dan teman-temannya segera mengambil buku dan mulai belajar. Berbeda dengan Heni, Indy sibuk menatap layar handphonenya. Membalas chating, mengomentari postingan temannya dan mengunggah foto-foto di akun Facebooknya.
"Facebookku lagi rame, nanti saja belajarnya." Ucap Indy dalam benaknya.
Detik demi detik pun berlalu. Kini waktu yang di berikan telah selesai, Bu Kris masuk dan membagikan soal ulangan untuk di kerjakan. Indy yang sejak tadi berfokus pada handphonenya kini mulai resah dan panik. Keringat dingin membanjiri tubuhnya.
"Bagaimana ini? Bagaimana jika nilaiku memburuk? Ya ampun jangan sampai aku dimarahin Ibu. Kalau sampai nilaiku jelek yang ada malah dibanding-bandingkan dengan anak tetangga." Kata Indy dalam hatinya.
Indy mulai mencari jalan keluar. Dalam keadaan terpojok seperti ini, pikirannya terkadang buntu. Namun Indy akhirnya menemukan sebuah Ide.
"Silahkan kerjakan soal masing-masing dan tidak boleh bekerja sama atau pun menyontek." Kata Bu Kris memperingatkan.
"Iya Bu guru." Sahut semua siswa serempak. Sesaat setelah itu kelas menjadi hening. Semua siswa fokus mengerjakan soal yang di berikan. Nampak Heni yang duduk dibangku terdepan mencoret-coret lembaran jawabannya. Ia salah menulis salah satu jawabannya. Sedangkan Gita dengan giat berusaha untuk mengingat kembali hal yang baru di bacanya lima menit yang lalu.
Di saat semua giat mengerjakan soal, Indy yang duduk dibarisan terbelakang dengan perasaan gugup, Ia mengeluarkan handphonenya dan mulai menyontek catatan yang sebelumnya telah di fotonya, sebagian soal yang tak dipahaminya segera Ia mengaskes aplikasi google dan mencari jawaban dari sana.
Tanpa disadari hal itu di perhatikan oleh Jely, Nia dan Erlin. Kecurigaan muncul dibenak masing-masing. Mereka tetap tenang dan menyelesaikan soal tersebut dan akhirnya waktu pun selesai, semua pekerjaan dikumpulkan untuk diperiksa oleh Bu Kris.
Indy tersenyum puas, keresahan berganti. Setelah Bu Kris keluar dari ruangan kelas 10 Mia 2, Indy Segera menuju tempat duduknya dan membuka handphonenya. Kemudian dengan percaya dirinya yang tinggi Ia memberitahu semua jawaban yang benar kepada teman-temannya. Kecurigaan kembali berputar dihati Heni.
"Sejak tadi Ia sibuk mengurus status Facebooknya tetapi dari mana Ia mengetahui semua jawaban yang benar?" Tanya Heni membatin.
Rasa curiga itu akhirnya Ia utarakan kepada Erlin.
"Benar. Ketika ulangan tadi saya juga melihat Indy menggeser-geser layar handphonenya. Padahal seharusnya tidak diperkenankan bermain handphone ketika pelajaran sedang berlangsung." Jawab Erlin mendukung pendapat Heni.
"Rando pun tadi mengatakan hal yang sama kepadaku, Ia mengatakan bahwa Indy menyontek pada handphonenya." Tambah Lia yang tak sengaja mendengar obrolan tersebut.
"Handphone tersebut disembunyikannya di balik buku sehingga Bu guru tidak mengetahui hal tersebut." Jawab Erlin membenarkan.
"Wah, tidak boleh dibiarkan. Masa kita semua berusaha sedangkan Ia dengan seenaknya mau mendapatkan nilai yang bagus tanpa mau berusaha belajar yang sungguh-sungguh. Tidak adil!" Gerutu Heni. menghentakkan kakinya ke lantai.
"Bagaimana kalau kita melaporkan hal ini kepada Bu Kris saja?" Usul Nia.
"Ide yang bagus. Ayo kita ke ruangannya Bu Kris." Sahut Erlin mendukung. Beramai-ramai mereka menuju ke ruangan Bu Kris, tanpa sedikit pun keraguan terbesit di hati, mereka segera mengetuk pintu dan masuk ke ruangan di mana Bu Kris berada.
"Kalian ada perlu apa sampai beramai-ramai menghadap Ibu seperti ini." Tanya Bu Kris kepada mereka berenam.
"Ibu sebenarnya kami ingin laporan." Sahut Nia menjawab pertanyaan Bu Kris.
"Laporan?" Tanya Bu Kris yang belum paham dengan seluk beluk masalahnya.
"Begini Bu, tadi ketika ulangan harian dilakukan ada seorang teman kami yang tidak pernah mengalihkan pandangannya dari handphone. Saat ulangan ko dia sibuk mengotak-atik handphone. Kami yakin Ia menyontek dari handphone itu." Kata Jely menjelaskan.
"Kamu yakin? Apakah kamu memiliki bukti bahwa Ia menyontek?" Selidik Bu Kris terlihat ragu.
"Kami para saksi yang melihat hal itu Bu guru." Tambah Jely.
"Setelah teman-teman memberitahu perihal Indy yang menyontek ini, saya mencoba mengecek handphonenya dan ternyata benar. Di sana tersimpan gambar catatan miliknya." Sambung Gita membenarkan pernyataan teman-temannya.
"Oke, nama siswanya siapa?" Tanya Bu Kris menorehkan seutas senyum di wajahnya.
"Nindy Herlinda Anggia." Jawab Nia.
"Beritahu seisi kelas, ulangan hari ini dibatalkan. Minggu depan teruntuk kelas 10 Mia 2 dilaksanakan ujian ulang." Jelas Bu Kris menahan amarah.
Nia, Jely, Gita, Heni, Lia dan Erlin berembuk dan memutuskan untuk tidak memberitahu teman-temannya yang lain. Agar tidak ada kecurigaam bahwa mereka telah melaporkan Indy yang menyontek saat ulangan harian tadi.
Di kelas mereka mulai mengobrol lagi dan berceloteh menambah keseruan. Suasana kelas yang riuh tiba-tiba menjadi hening saat Bu Erna memasuki ruangan tersebut.
"Selamat siang anak-anak." Ucap Bu Erna wali kelas 10 Mia 2.
Dengan tergesa-gesa semua berlari kecil menuju tempat duduk mereka.
"Selamat siang Bu guru." Jawab para siswa kelas 10 Mia 2.
"Siang ini udara begitu panas, sama juga keadaan emosi Ibu sedang memanas." Ucap Bu Erna berwibawa. Kelas hening, tak ada yang bersuara.
"Saya baru saja mendapat laporan dari Bu Kris, bahwa ulangan di kelas ini dibatalkan karena ketahuan ada yang menyontek di Hp." Lanjut Bu Erna lagi.
Semua siswa panik, mereka tidak mengetahui perihal ulangan di kelas 10 Mia 2 dibatalkan. Indy berusaha tersenyum agar menutupi kegelisahannya. Sedangkan Nia, Heni, Lia, Jely, Erlin dan Gita merasa gugup dan mulai panik. Mereka takut kalau sampai di panggil ke ruangan BK, sebab mereka yang telah melaporkan masalah tersebut sehingga mengakibatkan Bu Erna harus dipanggil.
"Tidak Bu." Ucap para siswa yang lain.
"Benarkah? Mungkin Bu Kris salah menyampaikan pesan. Saya pikir di kelas ini yang ulangannya di batalkan. Mungkin di kelas 10 Mia 1." Ucap Bu Erna lega.
"Tapi Bu, kelas 10 Mia 1 telah mengadakan ulangan harian sejak beberapa hari yang lalu, kelas kamilah yang baru mengadakan ulangan harian." Ucap Erlin memberanikan diri untuk bicara.
"Hmmm, benar juga. Soalnya tadi Bu Kris menyampaikan secara khusus pada saya. Kalian yakin bukan kelas ini yang ulangannya dibatalkan?" Tanya Bu Erna lagi.
"Bukan Bu! Tadi sebelum memulai ulangan kami diberi waktu lima menit untuk membaca kembali catatan kami, tetapi semenit sebelum ulangan dimulai, buku itu dikumpulkan di depan meja guru." Ucap Haris sang ketua kelas.
"Syukurlah kelas ini masih aman. Pertahankan terus, setelah ini saya akan menemui Bu Kris dan membicarakan hal ini." Unjar Bu Erna tersenyum lega.
Lia, Nia, Erlin, Gita, Jely dan Heni mulai gugup. Belum lagi ada seorang dari teman mereka yang mengatakan bahwa Indy hanya mengambil gambar dari soalnya saja. Nia merasa sedikit bersalah karena telah memberi saran untuk melaporkan kejadian tadi. Kegugupan terpancar di wajah Gita dan teman-temannya. Mereka memutuskan untuk berkumpul di tempat yang jauh agar dapat berembuk menemukan jalan keluar.
"Bagaimana jika kita menemui Bu Kris dan mengatakan bahwa kita salah paham." Usul Jely.
"Tidak! Jikalau demikian kita yang akan dipanggil oleh Bu Erna wali kelas kita untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kita ini." Seru Lia tidak setuju.
"Masa kita menyerah. Kita di jalan yang benar, di mana-mana kebenaran harus selalu menang." Unjar Nia.
"Tapi saya mendengar dari Lita, bahwa Indy hanya mengambil gambar pada soalnya saja.
Aaakkhhhh! Mengapa aku begitu ceroboh dalam mengambil keputusan? Mengapa tidak kita tanyakan dulu kebenarannya? Ya Tuhan ujian apakah lagi yang Engkau berikan pada hambamu," keluh Lia menyesali perbuatannya.
"Tapi saya melihat Indy sejak kita masih mengerjakan soal, Ia sudah mengotak-atik handphonenya. Lagian tadi kamu sendiri menemukan gambar catatan yang disimpan di handphonenya kan?" Tanya Heny menguatkan.
"Memang benar adanya. Tetapi jika Ia sudah menghapus gambar tersebut maka bukti mana yang akan kita kemukakan untuk dijadikan alasan?" Ucap Lia putus asa.
"Kita punya satu bukti lagi Lia, setelah selesai ujian Indy langsung mengatakan setiap jawaban dari semua soal. Dari mana Indy mengetahui hal itu? Kita sendiri tau, otak Indy pas-pasan. Tetapi mengapa tanpa melihat buku Ia bisa tahu semua jawaban benarnya, sedangkan disuruh belajar Ia malah sibuk dengan handphonenya." Kata Nia lagi.
"Benar juga. Tapi apa yang harus kita lakukan sekarang. Ayo cari jalan keluarnya sekarang." Unjar Gita yang mulai gemetar tak karuan.
"Bagaimana jika kita menghadap Bu Erna wali kelas kita saja. Untuk Bu Kris jangan lagi kita ganggu, ketika Ia masuk palingan menyuruh kita mengerjakan soal ulangan yang baru lagi kan?" Ucap Heni memberi usul.
"Tapi aku tak berani menghadap Bu Erna. Aku takut." Ucap Nia berkata jujur.
"Nia, di sini kita semua merasakan hal yang sama. Bukan kamu sendiri," ucap Erlin yang mulai kesal dengan Nia.
"Tidak usah di persoalkan. Kita menghadap Bu Erna setelah apel siang. Agar jika kita dimarahi. Dengan begitu hal apa saja yang kita dapat tetap hanya kita berlima saja yang tahu. Kita harus menyelesaikan masalah ini sekarang juga, kalau tidak aku akan was-was terus. Mungkin malam ini juga aku tidak bisa tidur." Ucap Jely dengan suara bergetar.
Semua setuju dengan saran dari Jely, mereka kembali ke kelas sembari menunggu bel pulang berbunyi.
Tengg....teeenngg....teennggg....
Bel pulang akhirnya berbunyi juga. Hati keenam sahabat itu mulai berdebar tak karuan, setelah mengikuti apel siang mereka segera berlari menghadap Bu Erna.
"Ada apa? Ada yang bisa saya banting?" Ucap Bu Erna bercanda.
"Ya ampun Bu, kami jangan dibanting." Jawab Gita yang mulai sedikit lega karena mendapat respon baik dari Bu Erna. Yang ada di pikiran Gita dan teman-temannya Bu Erna adalah orang yang cuek dan mudah emosi, namun dugaan mereka salah.
"Kalau begitu ada apa kalian kemari?" Tanya Bu Erna nampak serius.
"Bu, sebenarnya yang dikatakan oleh Bu Kris benar adanya. Kelas kami ulangan dibatalkan karena ada yang mencontek dari handphone." Ucap Erlin memberanikan diri.
"Mengapa kalian tidak mengatakan demikian ketika saya bertanya di kelas kalian tadi?" Tanya Bu Erna.
"Kami perasaan pada Indy, setiap hari kita selalu bersama tetapi tiba-tiba hal seperti ini terjadi. Kami sangat menyayangi Indy oleh sebab itulah kami ingin menyadarkan Indy bahwa perbuatannya merupakan hal yang salah." Ucap Gita jujur.
"Oke, Ibu mengerti. Silahkan kalian kembali ke rumah masing-masing. Oyah, siapa nama anak yang menyontek tadi?"
"Nindy Herlinda Anggia." Jawab Lia.
"Ohhh, baiklah." Jawab Bu Erna singkat.
"Tapi Bu, kami harap Ibu jangan menyebutkan nama kami, jangan mengatakan bahwa kami yang melaporkan hal ini." Ucap Nia dengan polosnya.
"Iya saya tidak akan menyebut nama kalian, saya akan mengatakan jika Bu Kris telah melihat secara langsung." Jawab Bu Erna.
"Terima kasih Bu guru, kami pamit. Selamat siang Bu." Seru mereka bersamaan.
Setelah kejadian tersebut hubungan mereka dengan Indy tetap baik-baik saja, karena Bu Erna dan Bu Kris tidak pernah memberitahu siapa yang melaporkan masalah tersebut.
Lega rasanya mereka dapat menyelesaikan masalah tersebut.
Setiap ada ulangan Bu Kris selalu memantau hal-hal yang dilakukan para muridnya, sehingga Indy tidak pernah menyontek lagi.
"Menyontek merupakan penyakit yang sulit disembuhkan jadi, jangan coba-coba kalian menyontek." Ucap Bu Kris berjalan mengelilingi tempat duduk para siswanya.
Indy mulai sadar akan sikap buruknya. Dalam hati Ia berjanji akan lebih giat belajar agar dapat mengubah sikap buruknya itu.
Cerpen dikirim oleh Zhindi Klali, Kelas X SMAN 1 Amfoang Utara.
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Tak Tega Biarkan Siswa Cedera Gagal Ujian, Kepsek SMAN1 Amfoang Utara Datang Langsung ke Rumah Siswa
Amfoang Utara – Komitmen terhadap hak pendidikan kembali ditunjukkan oleh SMA Negeri 1 Amfoang Utara. Di tengah pelaksanaan Ujian Sekolah (US) Tahun Pelajaran 2025/2026, pihak sek
Tak Tega Biarkan Siswa Cedera Gagal Ujian, Kepsek SMAN1 Amfoang Utara Datang Langsung ke Rumah Siswa
Amfoang Utara – Komitmen terhadap hak pendidikan kembali ditunjukkan oleh SMA Negeri 1 Amfoang Utara. Di tengah pelaksanaan Ujian Sekolah (US) Tahun Pelajaran 2025/2026, pihak sek
Tak Tega Biarkan Siswa Cedera Gagal Ujian, Kepsek SMAN1 Amfoang Utara Datang Langsung ke Rumah Siswa
Amfoang Utara – Komitmen terhadap hak pendidikan kembali ditunjukkan oleh SMA Negeri 1 Amfoang Utara. Di tengah pelaksanaan Ujian Sekolah (US) Tahun Pelajaran 2025/2026, pihak sek
Ujian Sekolah 2026 Bergulir, SMA Negeri 1 Amfoang Utara Fasilitasi Siswa Cedera Ikuti Ujian dari Rumah
Amfoang Utara – SMA Negeri 1 Amfoang Utara resmi menggelar Ujian Sekolah (US) Tahun Pelajaran 2025/2026 yang dimulai pada Rabu, 9 April 2026. Kegiatan ini diikuti oleh sebanyak 11
Ujian Sekolah 2026 Bergulir, SMA Negeri 1 Amfoang Utara Fasilitasi Siswa Cedera Ikuti Ujian dari Rumah
Amfoang Utara – SMA Negeri 1 Amfoang Utara resmi menggelar Ujian Sekolah (US) Tahun Pelajaran 2025/2026 yang dimulai pada Rabu, 9 April 2026. Kegiatan ini diikuti oleh sebanyak 11
Ujian Sekolah 2026 Bergulir, SMA Negeri 1 Amfoang Utara Fasilitasi Siswa Cedera Ikuti Ujian dari Rumah
Amfoang Utara – SMA Negeri 1 Amfoang Utara resmi menggelar Ujian Sekolah (US) Tahun Pelajaran 2025/2026 yang dimulai pada Rabu, 9 April 2026. Kegiatan ini diikuti oleh sebanyak 11
SMA Negeri 1 Amfoang Utara Salurkan Dana PIP untuk 184 Siswa, Kepsek Beri Teguran Keras Terkait Kedisiplinan
AMFOANG UTARA - SMA Negeri 1 Amfoang Utara menyalurkan dana bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) kepada 184 siswa dengan total nilai mencapai Rp317.700.000 (Tiga Ratus Juta Tujuh Ratu
Upacara HUT ke-80 PGRI dan Hari Guru Nasional 2025 Digelar Meriah di SMA Negeri 1 Amfoang Utara
Amfoang Utara, 25 November 2025 - SMA Negeri 1 Amfoang Utara menggelar Upacara HUT ke-80 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) sekaligus memperingati Hari Guru Nasional 2025 dengan p
Upacara HUT ke-80 PGRI dan Hari Guru Nasional 2025 Digelar Meriah di SMA Negeri 1 Amfoang Utara
Amfoang Utara, 25 November 2025 - SMA Negeri 1 Amfoang Utara menggelar Upacara HUT ke-80 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) sekaligus memperingati Hari Guru Nasional 2025 dengan p
Semangat Demokrasi Warnai Pemilihan OSIS SMA Negeri 1 Amfoang Utara, Paslon 1 Terpilih Sebagai Ketua dan Wakil OSIS 2025/2026
Amfoang Utara, Kompas - SMA Negeri 1 Amfoang Utara menggelar kegiatan pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIS periode 2025/2026 pada Jumat, 10 Oktober 2025. Kegiatan yang berlangsung di l