Rindu Pada Guru saat Pandemi
Kala fajar menyingsing
Bulan perlahan berpulang
Semangat menerjang
kebebasan menghilang
Meninggalkan senyum bertirai duka
Mimpi terhenti
Ketika keadaan memaksa menepi
Virus jadi sorotan
Istilah asing berdatangan
Sang Penguasa beri kebijakan
Gadget jadi kebutuhan
Namun
Hanya kertas putih bertabur ilmu kupunya
Tintaku tak lagi macet
Kuota internet jadi hambatan
Diri termenung diam
Atma bergejolak melukiskan harap
Keterbatasan jadi duka
Krisis ekonomi kian merambah
Nalarku makin redup
Ditiup hembusan kebodohan
Wahai yang maha mengasihi
Labirin hidupku masih terlampau panjang
Diriku masih harus bertanding
Mendobrak dinding
Demi masa depan lebih cemerlang
Tapi...
Bagaimana caraku bersaing
Jika balok-balok sinyal tak lagi nampak
Aku ingin seperti mereka dikota
Bertabur sinyal, berlimpah sumber pengetahuan
Apa daya kami yang di desa
Hanya punya sawah terhampar
Deburan ombak tanpa henti
Aku merindu segala riuh redam
Di tempatku mencari ilmu
Guruku...
Dahagaku akan hadirmu
Tak tergantikan oleh gadget secanggih apupun
Pandemi, cepatlah berlalu
Kembalilah semua seperti dulu
Biar aku bebas berlari sampai tengah hari
Menggapai semua mimpi
Oleh: Zhindi Klali, Kelas X SMAN 1 Amfoang Utara

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Puisi: Asesmen Nasional Berbasis Komputer, Jejak Digital
Di era teknologi yang semakin maju, Asesmen Nasional Berbasis Komputer hadir dengan penuh ragu. Jejak digital melintas di dunia pendidikan, Menyapa siswa-siswa dengan tantangan bar
Bantu Aku Bangkit Tuhan
Satu persatu masalah datang Mengisi kekosongan dalam jiwa Membuat cerita dalam setiap raga Aku tersungkur tak mampu bangkit Apa aku harus lari? Atau diam meratapi nasib Lalu baga
Ayah, Kau Tidak Nyata
Ayah?Ohh aku lupaKau hanya mimpi tiada nyataBayangmu hanya ilusi mataKarena sebenarnya Kau tak pernah ada Dewasa kujalani sendiriDi temani sesosok wanita kuatTanpa sosok laki-laki ya
Kita menutup kisah
Secepat inikah pertemuan kita?Aku yang selalu memeluk erat namamu padaNyaKini hanya mampu mengikhlaskanAku yang dulu menjadi tempatmu bersandarMerekatkan cerita dalam ingatanKini hanyal
Serpihan Keraguan
Dalam diam....Kupendam rapat kata hatiSaat mulut keluh tak mampu bicaraWalau hati terus berteriak Perasaan tau dimana harus berlabuhTetapi mulut terus membungkam Terus kukejarWalau di